Cara Memahami Karakter Anak nan Suka Membantah & gak Menurut

Saya kira, masih sangat banyak orang tua nan kebingungan dan kehadapatn akal tentang bagaimana cara mendidik anaknya sendiri.

Bahkan, lebih buruk lagi adalah renggangnya komunikasi antara anak dan orang tuanya, anak gak lagi menyukai orang tuanya.

Padahal, siapakah nan memenuhi kebutuhan hidup anak? Yaitu orang tuanya sendiri.

Sehingga, sangatlah menyedihkan melihat banyaknya anak nan gak menyukai orang tuanya. Padahal orang tuanya-lah nan banting tulang memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menghadapi fenomena ini gak ada gunanya menyalahkan pihak manapun, apalagi menyalahakan anak nan gak tahu apa-apa.

nan perlu dilakukan adalah mengusut secara perlahan benang kusut ini . Disinilah orang tua harus berperan aktif tuk dapat memahami karakter dan perilaku anak dengan tepat.

Anak dan Ayahnya
Anak dan Ayahnya | Sumber gambar: Pixabay.com

Pertama, mari kita mulai mengusut masalah anak nan sulit sekali mengerti nasihat orang tuanya.

Banyak orang tua nan bertanya-tanya: “Mengapa anak saya gak peduli dengan masa depannya sendiri, itukan tuk kebaikannya sendiri?”

“Mengapa anak saya gak mau sama sekali mendengarkan nasehat ibunya nan tulus dari hati?”

“Mengapa anak saya melakukan hal-hal nan aneh, bahkan melakukan hal-hal nan merugikan dirinya sendiri?”

Banyak sekali hal-hal nan membuat hati orang tua risih sebab kelakukan si anak.

gak perlu menyalahkan si anak secara mutlak, sebab cara pikir anak belum-lah dapat sematang cara pikir orang dewasa.

Justru disini, Orang tua nan perlu pro-akif tuk dapat memahami bentuk pola pemikiran anak, serta mempelajari prilakunya.

Sebagai informasi penting, umumnya tindakan-tindakan nan dilakukan anak dan remaja hanya berdasarkan emosi semata. dapat dikatakan lebih dari 90% dari mereka.

Dari sini, diambil sebuah kesimpulan nan sangat penting... Bahwa segala tindakan nan dilakukan anak dan remaja, kebanyakan hanya didorong oleh perasaannya. Hal itu sebab kemampuan mereka dalam berpikir jernih, belumlah matang.

Sehingga hal inilah nan membuat upaya nasehat nan diberikan orang tua kepada anak, seringkali berujung pada kegagalan. Anak gak patuh dalam menjalankan arahan orang tuanya.

Bahkan pada sebagian anak, ada nan secara terang-terangan menolak nasehat orang tuanya.


Orang tua nan berperan bak motivator nan memberikan petuah pada anak, jarang sekali nasehatnya nan sukses mau diterima anak. Malah anak dapat menjadi kesal pada orang tuanya sebab terlalu sering ‘menceramahi’.

Keadaan emosi negatif nan dialami anak, membuatnya hampir gak dapat menerima masukan nan positif. Kondisi emosi negatif ini muncul akibat rendahnya tingkat kepercayaan anak pada orang tuanya.

Hal inilah nan membuat anak lebih tertutup pada orang tuanya, gak mau membuka rahasia dirinya pada orang tua.

Anak berpikir, gak ada gunanya menceritakan sesuatu nan dialami kepada orang tua.

Bahkan lebih miris lagi, banyak anak nan berpikir bahwa menceritakan pengalaman nan dialami kepada orang tua, nantinya pasti akan direspon negatif seperti dicemooh, dimarahi dan semacamnya.

Dari sini kita mengetahui, bahwa umumnya orang tua-lah nan paling bertanggung jawab atas gangguan prilaku anak nan buruk, nan susah sekali tuk dinasehati.

Disinilah, pentingnya orang tua mengetahui kondisi psikologi anak. Orang tua harus menjaga hati anak supaya gak tersakiti.

Seringnya hati anak nan tersakiti oleh perkataan dan tindakan orang tuanya (nan seringkali hal ini gak disadari), membuat tingkat kepercayaan anak menurun pada orang tuanya.

Hingga, ketika semakin parah dan rendah tingkat kepercayaan anak pada orang tuanya, maka segala nasehat nan diberikan orang tua kemungkinan besar akan ditolak oleh anak. Anak gak mau mengikuti arahan orang tuanya.

apabila saja orang tua mampu tuk menjadi sosok nan mampu memayungi anak-anaknya dengan baik, maka kebaikan akan kembali kepada orang tua dan anak itu sendiri.

Akan sangat baik hasilnya apabila orang tua mampu dengan baik mengenali perasaan anak.

apabila hati anak dan orang tua sudah menyatu, maka anak nantinya dapat lebih terbuka kepada orang tuanya, dan mau menyempatkan waktu ‘pada hatinya’ tuk mendengarkan nasehat orang tua.

Hati anak nan menyatu dengan orang tua adalah hasil dari piawainya orang tua dalam menjalin hubungan dengan anaknya.

loading...

#Cara supaya hubungan orang tua dan anak menjadi lebih baik
Wajib bagi orang tua tuk memberikan kasih sanan pada anaknya. Walaupun hal ini sudah banyak diketahui di masyarakat, tetapi pada kenyataannya banyak sekali orang tua nan kurang dalam memberikan kasih sanan pada anaknya.

Minimnya anak mendapat kasih sanan dan perhatian, bahkan nan terjadi anak sering mendapatkan bentakan, Sudah jelas bahwa anak umumnya akan melawan pada orang tuanya.

Kesalahan anak nan melawan orang tuanya adalah buah dari kesalahan dari orang tua itu sendiri nan buruk dalam bermuamalah dengan sang anak.

Hal ini berbeda apabila orang tua sudah memberikan bentuk muamalah (hubungan) nan baik dengan anak, tapi anak bertindak kasar pada orang tunya. Maka kemungkinan besar masalah ini terjadi sebab lingkungan anak nan buruk.

apabila anak melihat lingkungannya adalah berisi orang-orang nan kasar, maka gaya kasar dalam berbicara akan masuk ke dalam jiwa anak.

Alhasil, walaupun orang tua sudah berkata lembut pada anaknya, justru akan dibalas oleh anak dengan perkataan nan kasar. Maka nan perlu dilakukan adalah mengontrol lingkungan anak bermain.

Pelajari tempat-tempat nan biasa anak bermain atau berada disana, apabila ada tempat nan gak baik seperti tempat itu adalah tempat menogkrong anak-anak nan suka merokok, minuman keras, berkata buruk, dll.

Maka orang tua wajib berusaha tuk mengganti tempat anak berada atau bermain, ke tempat nan baik, misalnya kumpulan anak-anak pengajian, dll.

Orang tua harus mengetahui kemana saja anak pergi, apa nan dialami, dan bentuk manusia seperti apa nan ditemui oleh anak. Hal ini penting tuk mengcounter anak supaya jangan sampai anak jatuh ke jalan nan menyimpang.

Dengan lingkungan anak nan baik maka orang tua dapat selangkah lebih depan tuk dapat mendidik anak menjadi sosok nan penurut dan perhatian pada orang tuanya.

tuk memiliki anak nan baik, maka penting bagi suami-istri supaya membangun kualitas hubungan nan harmonis. Dimana anak akan melihat Ayah dan Ibunya saling menghormati, saling mencintai, serta berkata lembut satu sama lainnya. Hal ini berdampak sangat baik bagi psikologis anak.

#Pelajari pola pikir anak dan remaja
Hal lainnya nan penting diketahui orang tua, bahwa anak-anak dan remaja umumnya akan melakukan sesuatu aktivitas nan dikira mereka dapat membuat rasa nyaman. Sehingga gak jarang ditemui ada banyak anak-anak nan melakukan hal-hal nan sebenarnya buruk, tetapi perasaan mereka mengatakan ini baik.

sebab inilah nan membuat banyak orang tua bertanya-tanya: “Mengapa anak saya melakukan hal aneh dan gak berguna, bahkan merugikan dirinya sendiri ?”.

Kita sudah tahu penyebabnya, anak melakukan hal nan buruk sebab perasaannya menganggapnya baik. Contoh simplenya adalah merokok nan sudah jelas-jelas merusak badan. Tapi aneh bin ajaib, sekarang banyak anak SMA dan SMP nan ‘berlomba-lomba’ tuk merokok sebab menganggapnya keren.

tuk itu, orang tua harus bersabar dan bersabar dalam memahamkan dan memperbaiki suatu hal nan salah pada anak. Betapa banyak hal buruk nan dianggap baik oleh anak. Disinilah peran besar orang tua tuk memahamkan anaknya pada hal nan baik dan benar.


#Jangan menasehati dalam bentuk kalimat mencela
Sebagai contoh seorang anak mengaku bahwa dirinya dihukum sebab gak mengerjakan PR. Anak memang melakukan kesalahan, tapi orang tua juga jangan melakukan kesalahan dalam merespon.

Seperti mau menasehati tetapi malah mencela, seperti mengatakan “Dasar anak malas, kamu harus lebih disiplin dan lebih memperhatikan tugas di sekolah.”

Mencela anak dengan kata ‘malas’ seperti contoh diatas gaklah memberikan manfaat sama sekali. Coba dikira-kira, apakah dengan mencela anak bahwa dirinya pemalas, lantas dirinya akan menjadi sosok nan rajin? gak sama sekali.

Justru anak akan tersinggung sebab celaan tersebut, dan membuka ‘pintu setan’ nan membuat  anak membenci orang tuanya sendiri.

Ketika anak sering tersakiti oleh kata-kata pedas dan kasar dari orang tuanya. Hal ini berujung pada emosi negatif nan membuat nasihat-nasihat orang tua (walaupun baik dan tulus) gak akan dianggap lagi oleh anak. Jadi, penting berhati-hati dalam menjaga perasaan anak.

#Penting tuk mereka-reka, apakah anak membantah dan gak menurut sebab mereka kurang mendapat perhatian dan pengakuan
Orang tua harus mengetahui, ketika anak selalu saja membantah dan gak menuruti arahan orang tua. Padahal arahan nan diberikan benar, dan apalagi anak tampaknya sudah tahu bahwa nan dikatakan orang tuanya adalah sesuatu nan benar. Tetapi anak tetap saja merespon negaif arahan orang tua.

apabila kondisinya demikian, kemungkinan besar nan dibutuhkan anak saat itu adalah hanya mau didengar saja, anak gak menginginkan solusinya.

Maka, dalam kondisi itu orang tua gak perlu ‘ceramah’ di depan anaknya. nan perlu dilakukan adaah cukup memberikan perhatian dan seyuman saja pada anak.

Maka 100% orang tua akan terkejut, ternyata anak tiba-tiba mau tuk terbuka, bahkan mereka gak sungkan-sungkan tuk berbagi pikiran dan perasaannya. Sehingga orang tua dapat lebih mudah memberikan nasehat dan arahan, serta lebih mudah dalam mengetahui kondisi anak secara akurat (sebab anak terbuka).

Orangtua jangan terlalu terburu-buru dalam mengambil jalur cepat, inginnya langsung memberikan masukan dan menghakimi anak, sebab apabila terlalu serung dilakukan maka anak pasti akan merespon negatif. Percuma sudah ‘berbusa’ mulut menceramahi anak, tapi anak gak mau mengerti. Hal itu sebab kesalahan oang tua sendiri nan terlalu terburu-buru.

nan paling dikhawatirkan adalah apabila tindakan nan salah dilakukan oleh orang tua, menyebabkan anak menutup diri dan menghindar bicara dengan orang tuanya. Maka semakin sulit bagi orang tua unuk dapat memperbaiki anak.

apabila orang tua mau supaya Anak meyatakan pikiran dan perasaannya secara tulus, maka jangan bermudah-mudah dalam menghakimi dan mengkritik anak. Selama anak bercerita, biarkan saja anak megungkapkan emosinya tanpa orang tua berkomentar nan miring.

Manfaat dari orang tua nan bersabar tuk mendengarkan isi hati anaknya (menahan diri tuk berkomentar negatif), pendekatan ini mampu mengembangkan rasa percaya diri anak, anak terlatih tuk berpikir memperbaiki dirinya sendiri, serta berani menghadapi tantangan.

Sebagi penutup. Hal nan penting diingat orang tua, supaya anak mudah tuk diberikan arahan, dan anak mererima nasehat / arahan dengan baik:

Pertama: berikan kasih sanan dan perhatian nan cukup pada anak.

Kedua: Adil kepada semua anak. Jangan sampai ada seorang anak nan merasa bahwa dirinya dibandingkan saudaranya, kurang mendapatkan perhatian, kasing sanan dan materi (seperti uang, dll).

Ketiga: Orang tua harus peka dalam memahami hati, perasaan dan emosi anak. Anak sangat rentan dengan nan namanya ‘sakit hati, sebab mereka masih terlalu mengedepankan perasaan. Jangan sampai dalam menasehati anak dilakukan sambil menghardik dan bernada tinggi. Pasti (atau kemungkinan besar) anak gak akan mau mendengarkan apa nan dikatakan orang tuanya.

Keempat: Salurkan hobi dan bakat anak, hal ini sangat baik tuk pengembangan diri anak. apabila suatu saat anak mengingat bahwa orang tuanya telah berjasa tuk mendidiknya dengan sangat baik, maka anak akan sangat berterima kasih pada orang tuanya, serta sanan kepada orang tuanya.

Kelima: apabila hubungan Suami-Istri mengalami masalah, jangan sampai bertengkar di depan anak.

Keenam: Miliki waktu berkualitas tuk berkumpul dan bermain bersama anak-anak. Jangan memberikan anak hanya sisa-sisa tenaga, sehingga waktu bersama anak dan orang tua menjadi gak berkualitas.

Ketujuh: apabila anak melakukan hal nan baik, maka berikan reward atau penghargaan pada anak. Dan apabila anak melakukan hal nan buruk, maka orang tua harus memikirkan cara nan baik dan tepat tuk menegur anak. Orang tua perlu bersikap tegas pada waktu nan tepat.

0 Response to "Cara Memahami Karakter Anak nan Suka Membantah & gak Menurut"

Posting Komentar